Batuk dan pilek merupakan keluhan yang paling sering dialami pada anak.

Kemungkinan Covid 19

Di masa pandemi Covid 19, ketika anak mengalami demam, batuk dan pilek, orang tua langsung khawatir. Mereka takut anaknya positif Covid 19 karena menunjukkan gejala tersebut. Lalu bagaimana cara membedakan anak Covid 19 dengan batuk pilek biasa?

 

Dokter Nastiti mengatakan demam, batuk dan pilek merupakan gejala yang ditunjukkan atau didapatkan oleh saluran napas kita, akibat suatu proses peradangan yang disebabkan infeksi apa pun. Penyebab infeksi bisa berbagai macam, bisa karena bakteri atau virus. "Semua bisa menimbulkan gejala batuk, pilek dan demam sampai jika berat bisa menimbulkan sesak napas yang disebut pneumonia," ungkapnya.

 

Menurutnya, Covid 19 juga merupakan virus yang bisa menyebabkan infeksi. Gejala yang ditimbulkan covid mirip dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang disebabkan oleh bakteri atau virus lain.

 

Untuk membedakannya, lanjut dokter Nastiti, yang paling baik adalah dengan tes Polymerase chain reaction (PCR). Hal Ini sekaligus untuk menyingkirkan kemungkinan tertular Covid 19. "Karena sekarang ini Covid 19 mempunyai spektrum gejala yang cukup bervariasi. Dari yang tanpa gejala, gejala ringan, dan lainnya," tambahnya.

 

Ia menambahkan memang ada beberapa penelitian yang mengatakan varian Omicron tidak sampai menyebabkan sesak, namun lebih banyak diare. Tapi kenyataannya di lapangan, ada juga yang menimbulkan sesak napas, padahal awalnya hanya batuk dan pilek.

"Jadi memang sulit membedakan apakah batuk atau pilek disebabkan covid atau disebabkan virus atau bakteri lainnya, selain memeriksakan apa sih kuman, bakteri atau virus apa yang ada di saluran napas dengan cara swab Polymerase chain reaction (PCR). Sebenarnya swab PCR bukan cuma kuman covid saja, tapi ada kuman lain seperti tuberkulosis dan lainnya," paparnya.

 

Bagaimana jika ternyata buah hati memang positif Covid 19? Nastiti mengatakan untuk mengatasi anak yang positif Covid 19, penanganan tergantung dari gejala covid yang dialami.

Untuk anak yang tanpa gejala atau gejala ringan, tidak memerlukan pengobatan khusus. Jika demam, boleh diberikan obat penurun demam sepetti golongan parasetamol. Jika pilek, bisa diberikan larutan yang mengandung garam fisiologis. “Yang boleh diberikan untuk semua kasus adalah vitamin-vitamin, vitamin C, vitamin D3, dan zinc,” tambahnya.

 

Sedangkan pengobatan antivirus tergantung dari derajat beratnya, biasanya yang memerlukan antivirus itu yang bergejala berat. Misalnya mengalami radang paru akut dan kekurangan oksigen. Atau jika anak cenderung besar, namun memiliki komorbid dan bisa rawat jalan, anak bisa diberikan antivirus. “Antivirus diberikan dengan beberapa pertimbangan. Pertama derajat beratnya, ada komorbid dan dokter memantau perkembangan gejala, bila ada perburukan cepat, mungkin antivirus harus diberikan. Atau anak dengan sistem imun terganggu, kita lebih agresif,” ujarnya.

 

Jika anak mengalami covid dan gejalanya meragukan ringan atau sedang, Nastiti menyarankan sebaiknya konsultasikan dengan dokter. Dokter akan membantu tatalaksana sesuai dengan derajatnya. ''Apakah anak membutuhkan antivirus atau tidak?'' katanya.

 

Bagaimana dengan antibiotik? Antibiotik bukan obat untuk penyakit yang disebabkan oleh virus. Antibiotik adalah obat untuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Pengobatan Covid 19 tentu tidak diberikan antibiotik, karena penyebab Covid 19 adalah virus.

Waspada Faktor Risiko

Semua bisa menimbulkan gejala batuk, pilek dan demam sampai jika berat bisa menimbulkan sesak napas yang disebut pneumonia.

Batuk dan pilek menjadi salah satu masalah sering dialami anak, terutama pada musim pancaroba seperti saat ini. Namun di tengah pandemi, hal ini menjadi mengkhawatirkan karena gejalanya mirip dengan gejala Covid 19.

 

Hal itu sempat mencemaskan Mawar Tania (40 tahun). Ibu dua anak ini khawatir karena putra sulungnya sempat mengalami batuk pilek yang cukup berat. ''Saya sampai berpikir apa anak saya tertular virus Omicron? Soalnya ketika itu kasus positif akibat virus Omicron sempat tinggi. Namun, setelah saya amati gejalanya lebih pada batuk pilek biasa. Ketika saya obati dengan obat batuk dan pilek yang beli di apotek ternyata manjur. Alhamdulillah,'' kata Mawar yang dihubungi pekan lalu.

 

Menurut Anggota Satgas Covid 19 dan Unit Kelompok Kerja (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Nastiti Kaswandai SpA(K), anak memang paling sering mengalami batuk pilek bahkan jauh sebelum pandemi Covid 19 berlangsung. "Sebelum era pandemi, sebelum kehebohan pandemi, batuk dan pilek merupakan keluhan yang paling sering dialami pada anak. Sebenarnya bukan saja pada anak, orang dewasa juga tapi terutama pada anak," ungkapnya dalam ajang pertemuan virtual.

 

Ia menjelaskan masa awal kehidupan, banyak sekali infeksi yang menyerang saluran pernapasan anak. Sebelum pandemi, anak rentan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Gejalanya sangat luas, jika menyerang saluran napas bagian atas, gejalanya bisa berupa demam, batuk, dan pilek. Jika menyerang saluran napas bawah, gejalanya itu meluas ke paru-paru sampai terjadi radang paru akut atau pneumonia. Gejalanya bisa sampai sesak napas.

 

"Gejala batuk dan pilek itu pada hakikatnya merupakan suatu tanda atau gejala adanya rangsangan pada saluran napas adanya infeksi, iritasi sehingga bentuk pertahanan di saluran napasnya dalam bentuk batuk atau pilek. Satu lagi kalau di hidung, bersin kadang-kadang," paparnya.

 

Seberapa sering anak mengalami batuk dan pilek? Menurutnya, anak usia di bawah lima tahun dalam setahun masih wajar atau normal bila terkena ISPA 4-8 kali dalam setahun. Misalnya setiap tiga bulan anak mengalami ISPA, itu masih batas wajar. "Kalau keluhannya tiap bulan atau tiap pekan itu perlu dievaluasi," tambahnya.

 

Ketika pandemi dan dilakukan antisipasi dengan pembatasan sosial juga masyarakat wajib mematuhi protokol kesehatan. Nastiti menilai hal ini tidak hanya mencegah Covid, tapi juga ISPA atau kejadian yang menimpa anak sebelum pandemi cukup banyak itu turun. "Artinya tidak ada penularan di sekolah, daycare atau tempat umum. Angkanya menurun signifikan ketika lockdown," ungkapnya.

Anggota Satgas Covid 19 dan Unit Kelompok Kerja (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Nastiti Kaswandai SpA(K), menjelaskan ada beberapa faktor risiko anak lebih sering mengalami ISPA dibanding anak lain.

pexels

top

kelly sikkema/unsplash

Tanda Bahaya

Anak yang mengalami batuk pilek tetap harus dipantau secara ketat. Apalagi saat virus Covid 19 masih merebak. Anggota Satgas Covid 19 dan Unit Kelompok Kerja (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Nastiti Kaswandai SpA(K), memaparkan tanda bahaya yang perlu diwaspadai orang tua sehingga membutuhkan perawatan khusus di rumah sakit.

1. Demam terus-menerus.

Tanda bahaya yang harus diwaspadai dan harus segera ke rumah sakit adalah ketika anak demam terus menerus, apalagi jika ada riwayat kejang, dan demam sudah berlangsung tiga hari bertutur-turut.

2. Cek asupan makanan.

Lihat pula apakah anak cukup aktif, apakah asupan makanan dan minuman cukup baik. Hal ini bisa dilihat dari buang air kecil anak. Jika volume buang air kecil banyak, maka kondisinya cukup baik. Sebaliknya, jika berkurang, kemungkinan anak dehidrasi. Selain itu bila anak muntah dan tidak bisa menerima makanan dan minuman juga harus dibawa ke rumah sakit agar cairan yang dikeluarkan segera tergantikan.

3. Sesak napas, kejang dan penurunan kesadaran.

Untuk sesak napas bisa lihat saturasi oksigen anak. Jika saturasinya 95 ke bawah, sebaiknya segera bawa anak ke rumah sakit. Jika tidak ada punya alat pengukur saturasi, menurutnya, bisa dengan melihat pola napas anak, apakah anak bernapas lebih cepat dari biasanya.

Orang tua bisa menghitung tarikan napas anak. Jika napas anak agak cepat, hitung napas dalam satu menit. Jika bayi usia dua bulan, napasnya lebih dari 60 kali permenit atau sama dengan 60 kali per menit berarti napasnya cepat. Untuk bayi berusia 6- 12 bulan, jika 50 kali per menit, berarti napasnya cepat. Jika anak berusia 1-5 tahun batasnya 40 kali per menit, berarti mengalami sesak napas.“Jika napas anak sudah ngos-ngosan, segera bawa ke rumah sakit,” ujarnya.

4. Jangan panik.

Dokter Nastiti mengingatkan untuk jangan panik. Karena kalau sudah panik, kita tidak bisa berpikir jernih dan cenderung melakukan sesuatu yang berlebihan. Sebaiknya tetap waspada dan ikuti anjuran dari pemerintah dan vaksinasi anak usia 6 tahun ke atas. “Jika ada gejala ISPA, jangan panik, berikan pertolongan pertama di rumah. Jika demam berikan obat antidemam. Banyak minum air putih hangat, susu lebih banyak dari biasanya juga bisa. Pokoknya jangan kekurangan cairan. Karena cairan cukup bisa menurunkan gejala demam dan memastikan anak tercukupi kebutuhan cairannya,” ujarnya.

FREEPIK

Jangan Remehkan

Batuk Pilek